Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Malaysia, mengajak kepada seluruh mahasiswa untuk turut aktif meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Ada berbagai cara yang dapat dilakukan, salah satunya dengan mempelajari mutu pendidikan di luar negeri yang dianggap mampu bersaing dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Menurut Atase KBRI Malaysia, Prof. Dr. Ari Purbayanto, M.Sc mengatakan Malaysia menjadi target yang tepat untuk mempelajari mutu pendidikan, karena pendidikan di Malaysia telah tertata dan terstruktur.

Hal tersebut diungkapkan pada sambutan nota kesepakatan antara UMY dengan KBRI Malaysia, Kamis (9/2), di ruang Sidang AR. Fachruddin A Kampus Terpadu UMY. Penandatanganan nota kesepakatan tersebut terkait Program Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) Mengajar di Malaysia. “Ini adalah sebuah momen yang tepat dalam rangka kita secara bersama-sama terus meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Dengan adanya kerjasama ini tentu memberi kesempatan kepada mahasiswa agar bisa membuka wawasan secara global. Ini karena persaingan telah ada di depan kita. MEA sudah kita masuki. Saatnya kita harus mempersiapkan diri untuk berani bersaing memperkuat keunggulan melalui proses pendidikan yang terstruktur, tidak hanya di dalam negeri, namun juga di luar negeri,” ujar Prof. Ari di Ruang Sidang AR Fachruddin A lantai 5 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Prof. Ari menjelaskan lebih lanjut dalam konteks mutu pendidikan, Malaysia memiliki keunggulan di bidang pendidikan serta memiliki karakter yang kuat. “Kita harus bisa mendapatkan peluang. Meskipun Malaysia belum pernah mendapatkan penghargaan di kejuaraan SAINS, namun kita bisa melihat bahwa pendidikan di sana telah tertata dengan baik. Selain itu Malaysia memiliki kedekatan geografis dan culture, sehingga harus dimanfaatkan. Paradigma saat ini bagaimana cara untuk terus membangun networking, bukan hanya di dalam negeri, tapi juga di luar negeri,” jelasnya.

Dalam sambutannya Prof. Ari berharap kerjasama pendidikan tersebut bukan hanya melalui program PPL, namun juga mengadakan diplomasi kebudayaan. “Kita harus tunjukkan bahwa kita adalah bangsa yang besar. Dan tunjukkan melalui diplomasi kebudayaan ini bagaimana agar Bahasa Indonesia menjadi Bahasa ASEAN,” harapnya.

Sementara itu Rektor UMY, Dr. Gunawan Budiyanto mengatakan bahwa bagi masyarakat Indonesia sangat disayangkan belum mampu mengambil peluang yang ada. Rektor menganggap Indonesia belum memiliki rasa percaya diri, sehingga termasuk Negara yang sedikit tertinggal. “Sebenarnya kita punya peluang yang besar dengan Malaysia. Namun sangat disayangkan kita masih hidup dalam tempurung. Jika rasa percaya diri bisa kita kembangkan, saya yakin kita punya modal untuk melebihi Negara lain. Selama ini kita menutup diri, saya kira dengan diadakannya PPL ini kita bisa membuka peluang,” ujarnya. (hv)