img_2986

Tenas Effendy adalah seorang Budayawan asal Riau yang juga merumuskan sebuah Tunjuk Ajar Melayu (TAM). TAM sendiri merupakan segala jenis petuah, nasehat, dan pengajaran yang bermanfaat bagi kehidupan manusia luas. Dalam TAM yang dirumuskan oleh Tenas Effendy sendiri dinilai memiliki kandungan konseling spiritual di dalamnya.

Hal tersebut diungkapkan oleh H.Muslim Afandi selaku promofendus dalam Sidang Doktor UMY di Amphiteater Pascasarjana pada Sabtu (19/11). Dalam pemaparannya, Muslim menyebutkan bahwa TAM ala Tenas Effendy memiliki 25 pemikiran utama yang disebut sebagai Pakaian Dua Puluh Lima. Dari 25 pemikiran tersebut, di setiap butir pemikiran mengandung nilai-nilai konseling spiritual yang dapat digunakan saat bimbingan konseling spiritual pada murid.

“Pakaian dua puluh lima tersebut antara lain sifat tahu asal mula jadi, tahu berpegang pada Yang Satu. Sifat tahu membalas budi. Sifat hidup bertenggangan, mati berpegangan. Sifat tahu ‘kan bodoh diri. Sifat tahu diri. Sifat hidup memegang amanah. Sifat benang arang. Sifat tahan menentang matahari. Dan 17 sifat lainnya,” ujar Muslim.

Selanjutnya Muslim menjelaskan makna dan kandungan spiritual dalam sifat yang pertama yakni sifat tahu asal mula jadi, tahu berpegang pada Yang Satu. Maksudnya ialah suatu sifat yang menyadarkan bahwa dirinya sebagai manusia (makhluk) yang diciptakan oleh Allah, menyadari dirinya sebagai seorang hamba Allah. “Kesadaran ini mendorongnya untuk bertaqwa kepada Allah, mematuhi perintah Allah dan menjauhi laranganNya, dan berusaha untuk menjadikan dirinya sebagai sebagai hamba Allah yang saleh,” jelas Muslim.

Sedangkan sifat yang kedua yakni sifat tahu membalas budi memiliki kandungan sifat tahu membalas jasa ibu dan bapak, tahu membalas budi guru, dan tahu membalas segala kebaikan orang. “Sifat ini dapat mendorongnya untuk berbuat baik kepada kaum kerabat, sahabat, tetangga, masyarakat, bangsa dan negaranya,” tambah Muslim.

Sifat hidup bertenggangan, mati berpegangan memiliki kandungan sifat yang selalu mengutamakan dan menjunjung tinggi rasa persebatian atau tenggang rasa, kesetiakawanan sosial, persatuan, dan kesatuan antar sesama makhluk Allah. “Sifat selanjutnya, yang keempat, sifat tahu ‘kan bodoh diri yaitu sifat dimana individu menyadari segala kekurangan dan kelemahan diri sendiri, mengetahui cacat dan cela diri sendiri. Bedanya dengan sifat kelima yakni sifat tahu diri, merupakan sifat dimana seseorang menyadari sepenuhnya hakikat hidup dan kehidupan di dunia, dan menyadari pula akan adanya kehidupan di akhirat. Tahu siapa dirinya, tahu dari mana asalnya, tahu untuk apa hidup di dunia dan kemana akhir hidupnya,” terang Muslim.

Selain lima sifat yang terjabarkan diatas, dua puluh sifat dan kandungan nilai-nilainya dijabarkan secara lengkap oleh H. Muslim Afandi dalam disertasinya yang berjudul “Konseling Spiritual dalam Tunjuk Ajar Melayu Tenas Effendy.” Bertindak sebagai penguji antara lain Prof. Dr. Tulus Warsito, M.Si. (Ketua Sidang), Dr. Muhammad Azhar, M.Ag (Sekretaris), Prof. Dr. Taufik A. Dardiri, S.U. (Promotor), Dr. Abdul Madjid, M.Ag. (Co-Promotor), Prof. Dr. Sutrisno, M.Ag., Dr. M. Nurul Yamin, M.Si, Dr. Mahli Zainudin, M.Si. dan Dr. Muhammad Anis, M.A.

Dalam sidang promosi doktor tersebut, Muslim Afandi berdasarkan keputusan promotor dan penguji dalam sidang tersebut berhasil lulus dan mendapatkan IPK 3,85 dengan predikat Cumlaude.  Muslim Afandi merupakan Doktor ke-33 yang dihasilkan oleh Program Doktor UMY. (Evan-PPI)