Produk-produk teknologi bukan hanya memberi kemudahan dalam proses pembelajaran, namun juga melahirkan masalah baru bagi sisi kemanusiaan. Dalam menghadapi tantangan Revolusi Industri keempat ini pun, manusia dituntut untuk tidak menghilangkan sisi kemanusiaannya. Sebagaimana disampaikan oleh Prof. Dr. Abdul Mujib, M.Ag., M.Si Untuk itu dalam seminar nasional bertajuk “Pendidikan Islam dan Tantangan Industri IV: Perspektif Agama dan Psikologi” pada Jum’at (27/4) di Ruang Sidang Direktur Pascasarjana UMY.

Pof. Dr. Abdul Mujib, selaku narasumber menyampaikan bahwa masuknya revolusi industri generasi keempat menjadi tantangan bagi para akademisi dan perguruan tinggi. “Karakteristik revolusi industri keempat yaitu adanya digital economy, artificial intelligence, big data dan robotic. Revolusi industri bukan saja mengganti energi hidup dengan mesin, tetapi pikiran manusia juga diganti dengan mesin. Maka dari itu untuk menyikapi hal tersebut tergantung diri kita sendiri, apakah menjadikannya sebagai sebuah peluang, ancaman, atau tantangan. Kemudian kita akan menghindar, berkompetisi, akomodasi, kompromi da kolaborasi,” papar Abdul yang juga merupakan Guru Besar Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Abdul menambahkan ada dua cara dalam upaya menyambut revolusi industri keempat. “Pertama, menyiapkan dan mengembangkan SDM agar mampu berdaya saing. Kedua, antisipasi dampak negatif, terutama dehumanisasinya dan mencarikan solusi atau terapinya. Dalam hal ini peranan psikologi harus dihadirkan untuk mengembangkan dan memperkaya kekuatan positif manusia. Hal tersebut bisa melalui pendekatan pengembangan diri yakni kesuksesan, kuat, optimisme, baik, bahagia, sehat dan rasa cinta. Karena secara harfiah ilmu psikologi Islam merupakan ilmu jiwa perilaku dan dikaitkan dengan pencipta-Nya,” ujarnya.

Lebih lanjut Abdul menuturkan psikologi Islam secara spesifik mengakui kebenaran yang objektif dan subjektif. “Untuk itu dengan adanya revolusi generasi keempat kita perlu menerima secara menyuluruh dan mampu mempertimbangkan hal-hal yang bertolak belakang dengan nilai-nilai keIslaman. Di samping itu kita juga perlu mengedepankan sisi kemanusiaan dan empati terhadap kondisi sosial yang ada,” tandasnya. (sumali)