Anak merupakan aset masa depan bagi bangsa dan juga orang tua, karenanya pendidikan menjadi sebuah sarana untuk memberikan jaminan bagi mereka. Salah satu aspek yang perlu diajarkan pada pelajar adalah pendidikan karakter yang dapat menjadi pedoman dalam keseharian. Pemerintah Indonesia menyadari pentingnya hal tersebut dan kemudian berusaha mengiplementasikannya dengan mencanangkan program penguatan pendidikan karakter.

Pentingnya pendidikan karakter tersebut kemudian menjadi topik disertasi yang dilakukan oleh Eniwati Khaidir, mahasiswi Ilmu Psikologi Pendidikan Islam Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dalam penelitiannya di Sekolah Menengah Atas (SMA) Islam As-Shofa, Pekanbaru. Hal tersebut diungkapkannya dalam Sidang Terbuka pada hari Selasa (13/11) di ruang Ampiteater gedung Kasman Singodimedjo.

Disebutkan oleh Eniwati bahwa ada sentimen yang berpendapat bahwa pendidikan yang diberikan oleh berbagai institusi gagal dalam memberikan pembentukan watak dan moral bangsa, karenanya perlu adanya sebuah inovasi. “Sebagian kalangan berpendapat bahwa banyak intitusi pendidikan yang belum berhasil melahirkan anak yang berbudi pekerti luhur. Oleh karena itu harus ada perubahan mengenai bagaimana metode, strategi dan pendekatan yang perlu diambil dalam mendidik, karena hal tersebut yang menetukan efektifitas dan efesiesni dari pembentukan karakter peserta didik. Sekolah sebagai lembaga formal pendidikan pun kemudian dituntut untuk mampu menanamkan nilai dan karakter yang sesuai dengan moral bangsa untuk menghasilkan anak berkarakter luhur,” ujarnya.

Eniwati menyampaikan bahwa pendidikan karakter merupakan proses awal yang dibutuhkan oleh anak sebagai aset masa depan. “Ibarat sebuah bangunan, bagi anak pendidikan karakter adalah pondasi yang menjadi dasar untuk mendirikan kepribadian yang baik. Oleh Yayasan Pendidikan As-Shofa, pendidikan karakter tersebut dilaksakan dari berbagai kegiatan dalam Aplikasi Kegiatan Spiritual Islami (AKSI) yang berpedoman pada pembentukan karakter dalam Psikologi Pendidikan Islam. Misalnya melalui kegiatan ibadah dan implementasi nilai keimanan dan amal baik, dengan hal tersebut diharapkan anak mampu memiliki akhlaq al-mahmudah dan menghindari terbentuknya karakter tercela. Dengan ini anak akan mampu menjalankan kehidupannya sesuai dengan karakter Islam dan juga membentengi dirinya dalam interaksinya dengan masyarakat luas,” ungkapnya.

“Pembentukan karakter tersebut tidak hanya ditujukan kepada siswa SMA As-Shofa saja, namun juga diterapkan kepada seluruh guru dan tenaga pendidik di lingkungan sekolah. Hal tersebut agar lingkungan beserta isinya dapat menjadi model panutan bagi para siswa dalam belajar membentuk karakternya. Dengan begitu sebuah sistem pembentukan karakter yang terintegrasi secara komprehensif dapat terbentuk,” jelasnya.

Eniwati berharap hasil disertasinya dapat menjadi bahan untuk memberikan kemajuan bagi pendidikan karakter dalam institusi pendidikan di Indonesia. (raditia)