Kemiskinan merupakan faktor dominan yang mempengaruhi persoalan kemanusiaan seperti keterbelakangan, kebodohan, ketelantaran, kematian dini, putus sekolah dan perdagangan manusia tidak bisa dipisahkan dari masalah kemiskinan. Hal tersebut yang menjadi alasan penting disertasi Harmaini dengan mengangkat judul disertasi “Konstruk Realitas Sosial Masyarakat Miskin Tentang Pendidikan di Kelurahan Tuah Karya Kecamatan Tampan Kota Pekan Baru”. Hasil disertasinya tersebut disampaikan dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor untuk Psikologi Pendidikan Islam (PPI) Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Sidang terbuka tersebut dilakukan di Ruang Sidang Gedung Kasman Singodimedjo pada hari Kamis (5/7).

Dalam disertasi tersebut Harmaini menyampaikan bahwa berbagai upaya telah dilakukan untuk mengentaskan kemisikinan. “Namun kontruksi realitas sosial masyarakat miskin tentang pendidikan adalah, pendidikan kurang memahami masyrakat miskin, ketidakmampuan dalam pengadaan pendidikan, mengakui kesulitan dalam kehidupan, serta ada keraguan pendidikan dapat membuat sukses kehidupan kedepan. Kenyataannya penerapan pendidikan selama ini masih bersifat penyamarataan pada setiap kalangan masyarakat. Akibat dari penyemarataan ini pada akhirnya tidak meningkatkan minat dan kemampuan belajar pada masyarakat miskin. Maka wajar, jika masyarakat miskin banyak yang tetap miskin karena tidak mendapatkan pendidikan yang berkualitas dan sesuai dengan keadaan masyarakat miskin. Sehingga pada akhirnya masyarakat tersebut tidak bisa mengoptimalkan kemampuan dirinya, karena tidak ditopang oleh kemampuan berpikir yang memadai,” paparnya.

Harmaini menambahkan bahwa masyarakat miskin menganggap bahwa pendidikan yang ada sekarang tidak memihak pada masyarakat miskin. “Pendidikan sekarang tidak memahami secara penuh bagaimana keadaan dan kemampuan masyarakat. Mereka menganggap pendidikan sekarang menjadikan mereka tidak lebih baik. Hal ini disebabakan karena pendidikan yang diselenggarakan pemerintah dan swasta lebih memperhatikan pada pendidikan orang mampu baik secara ekonomi, intelektual dan sosial,” ujarnya.

Kembali ditambahkan Harmaini seharusnya dengan adanya pendidikan harus mampu meningkatkan kecerdasan pikiran, mengontrol emosi dan religi yang ada. “Oleh karena itu diperlukan pendidikan yang tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan dan paham bagaimana metode mengajar, tapi juga harus dapat mengerti dinamika psikologis masyarakat miskin. Apabila pendidikan dapat menyentuh karakteristik masyrakat seperti sikap, pikiran, emosi, religi, kebiasaan, maka pendidikan dapat dijalani oleh masyarakat miskin dengan menyenangkan dan akan menimbulkan keyakinan pada dirinya dan akhirnya pendidikan dapat berdaya guna untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat miskin,” ungkapnya.

Harmaini memperoleh predikat memuaskan dengan promotor Prof. Dr. Usman Abu Bakar, MA, Dr. M. Nurul Yamin, M.Si., kemudian selaku penguji yakni Prof. Dr. Sutrisno, M.Ag,. Dr Abd. Madjid M.Ag, Dr. Suciati, S.Sos, M.Si, Dr Aris Fauzan, MA., Dr. Muhammad Anis serta Sri Atmaja, P. Rosyidi, M.Sc. Eng, Ph.D., P.E.