Di Indonesia, usia 55 sampai 60 tahun merupakan waktu yang tepat untuk seorang pegawai mengambil pensiun. Pada masa itu banyak sekali pensiunan yang mengalami masalah seperti sakit – sakitan, kekurangan ekonomi, dan keresahan dalam menjalani hidup karena tidak ingin menyusahkan keluarganya. Namun, ada juga pegawai yang sudah purna tugas menikmati masa pensiun dengan kesuksesan berkat berwirausaha. Pada disertasi yang digarap oleh Patisina berjudul “Sukses Berwirausaha di Usia Pensiun : Perbandingan Generasi Baby Boomer dan Generasi X di Indonesia” membahas tentang kenapa pensiunan bisa sukses dalam berbisnis.

Patisina menjelaskan bahwa ada beberapa ciri-ciri seorang pensiunan yang bisa di sebut sukses baik Generasi Baby Boomer maupun Generasi X terbilang sama. “Setelah saya melakukan penelitian di lapangan, saya menyimpulkan ada beberapa hal yang menjadi tolak ukur seorang pensiunan bisa dikatakan sukses. Pertama adalah Financial freedom atau tidak memiliki masalah dalam keuangan, kedua Family Time Freedom adalah memiliki waktu luang untuk keluarga, ketiga Blessing Others seorang pensiun yang bisa berguna bagi masyarakat sekitar, dan yang terahir adalah Degree of Spiritualty mampu membuat dirinya semakin dekat dengan Allah S.W.T,” ujarnya saat melakukan sidang promosi doktor pada Rabu (5/9) di Gedung Pascasarjana Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Kemudian, Patisina juga menuturkan bahwa kehidupan buruk seorang pensiunan disebabkan berbagai hal. “Kehidupan seorang pekerja akan berubah drastis ketika memasuki masa pensiun. Tidak bisa mengelola uang pesangon dari perusahaan, bingung dengan pekerjaan apa yang akan dilakukan pasca pensiun dan tidak mendekatkan diri kepada Allah S.W.T. Jika persoalaan itu terus berlanjut, seorang pensiunan akan menjadi sakit- sakitan dan kemudian meninggal dunia,” tutur Patisina.

Dengan fakta-fakta tersebut, promofendus akhirnya menyimpulkan bahwa seorang pensiunan yang berwirausaha dan kemudian sukses, adalah mereka yang siap menghadapi hari tua dan dekat dengan Allah S.W.T. “Dari semua fakta yang saya dapatkan di lapangan, pensiunan yang sukses adalah mereka yang sudah siap ketika hendak memasuki masa pensiun. Selain itu, tingkat religiusitas yang tinggi dapat mempengaruhi kesuksesan seseorang,” tambahnya.

Dalam sidang doktor kali ini terdapat 8 orang yang masuk dalam tim penguji yaitu Sri Atmaja P. Rosyidi, Ph.D., P.Eng., Dr. Ariz Fauzan, M.A, Prof. Dr. Heru Kurnianto T., Dr. Muhammad Anis, M.A, Prof. Dr. Siswanto Masruri, M.A., Dr. Mahli Zainuddin, M.Si., Dr. M. Nurul Yamin, M.Si., Dr. Abd. Madjid, M.Ag.. Patisina berdasarkan keputusan Dewan Penguji dalam sidang tersebut berhasil Lulus dengan meraih predikat “Cumlaude” dengan IPK 3.75. Patisina menjadi lulusan ke-46 Program Doktor Psikologi Pendidikan Islam dan menjadi doktor ke- 57 yang diluluskan oleh UMY. (Evan)