Membaca sangat penting dalam kehidupan masyarakat yang semakin kompleks, sehingga kemampuan membaca menjadi tuntutan. Salah satu upaya peningkatan sumber daya manusia yaitu dengan mendorong tumbuhnya minat belajar masyarakat, dan salah satu ciri terpenting dari masyarakat terpelajar adalah tingginya minat dan kegemaran membaca. Hal tersebut sebagaimana dikatakan oleh Muhsin Kalida dalam disertasinya yang berjudul Peran Kreatif Pembelajaran TBM Dalam Meningkatkan Minat Baca Anak (Studi Komparatif TBM Yogyakarta dan perpustakaan Komunitas Kuala Lumpur Malaysia).

Dikatakan oleh Muhsin minat baca di Indonesia dalam kategori rendah terutama anak-anak. Taman Bacaan Masyarakat (TBM) merupakan salah satu alternatif sebagai pusat belajar dalam rangka meningkatkan minat membaca anak-anak yang merupakan program dari Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat (DITBINDIKMAS), Direktorat Jenderal pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (Dirjend PAUDNI), dan Kementerian pendidikan dan Kebudayaan RI. TBM diharapkan menjadi pusat sumber ilmu yang memiliki peran strategis untuk mewujudkan masyarakat yang memiliki minat dan berbudaya baca (reading society).

“Pembelajaran TBM dengan konsep kreatif sebagai sumber belajar masyarakat memiliki kedudukan strategis dalam mengembangkan potensi masyarakat,” ungkap Muhsin. Ia menjelaskan TBM memiliki 3 layanan utama yaitu widya-pustaka, artinya TBM menyediakan referensi kepustakaan tulis dan non tulis seperti buku teks, buku popular, dan buku pengetahuan popular, serta berbagai rekaman dengan bermacam-macam media. Layanan widya-loka menjadikan TBM sebagai sarana untuk melaksanakan diskusi, bedah buku, sarasehan dan sebagainya. Dan layanan widya-budaya yang merupakan wadah untuk menuangkan ide-ide dan mengasah bakat masyarakat, seperti menulis, teater, tari, membatik bisa dilakukan.

Selain itu bentuk pembelajaran kreatif dalam meningkatkan minat baca anak di TBM Yogyakarta, adalah program parenting, sekolah menulis, praktek buku, sekolah mitra, mengenal reptile, pelayanan peminjaman buku, menulis mimpi, membungkus kado, membuat origami, membaca cepat dan memahami isi. “Pembelajaran kreatif ini diharapkan dapat mempengaruhi motivasi anak untuk membaca,” kata Muhsin.

Berkat disertasinya ini Muhsin berhasil menjadi doktor ke 51 yang diluluskan oleh program pascasarjana psikologi pendidikan islam pada tanggal 21 September 2018 dengan predikat nilai sangat memuaskan hal tersebut disebutkan oleh ketua sidang doktor Sri Atmaja P. Rosyidi, M.Sc Eng., PhD.(Pras)