Jum’at (9/2/2018) Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta melaksanakan Yudisium S2 dan S3 periode ke-II Tahun Akademik 2017/2018 bertempat di Ruang Seminar Gedung Pascasarjana kampus terpadu UMY. Pelaksanaan Yudisium dipimpin oleh Sekretaris Direktur Bidang Akademik Program Pascasarjana UMY  Prof. Dr. Siswoyo Haryono dan dihadiri oleh Semua Kaprodi di lingkungan Pascasarjana UMY.

Pada Yudisium Periode II Tahun Akademik 2017/2018 ini diikuti oleh 79 calon wisudawan Pascasarjana yang akan diwisuda pada Sabtu (10/2). Lulusan terbaik untuk  jenjang S2 diraih oleh Dwian Hartomi Akta Padma Eldo dari program studi Magister Ilmu Pemerintahan dengan IPK 3,92. Sedangkan jenjang S3 diraih oleh Enrique Bilan Batara dari Program Studi Doktor Ilmu Politik-Politik Islam dengan IPK 3,77.

Dalam kegiatan Yudisium tersebut diadakan pula kuliah akhir studi  mendatangkan narasumber Drs. Dwiyono Iriyanto,M.M.,CPC yang membawakan materi tentang “Ekonomi Islam di Tengah Kompetisi Global, Peluang dan Tantangan”. Menurutnya, Pemerintah memiliki peran yang sangat penting khususnya pada bidang perekonomian bangsa baik dari skala mikro maupun makro. Karena dengan adanya dukungan pemerintah akan memperkuat sistem perekonomian secara menyeluruh terutama sistem ekonomi berbasis Islam. Maka untuk memperkuat ekonomi Islam perlu adanya Sumber Daya Manusia yang memiliki kualitas.

Dwiyono menyampaikan, bahwa ekonomi Islam harus mampu bersaing dengan dunia global karena itu merupakam salah satu jalan dakwah bagi para kaum muslim. “Saat ini perkembangan teknologi sudah berkembang pesat, kita seharusnya aktif dan melek teknologi dan secara perlahan beradaptasi dengan teknologi. Saat ini kita perlu berinovasi dalam bidang apapun terutama pada bidang ekonomi Islam,” papar Dwiyono.

Dwiyono menambahkan bahwa umat Islam masih banyak yang belum bisa menerima dan menjalankan ekonomi syariah seutuhnya. “Pelaku bisnis muslim seharusnya mempunyai dasar dan prinsip yang kuat dalam mengembangkan bisnisnya. Karena kalau kita lihat saat ini peningkatan kesadaran syariah masih minim, SDM pelaku ekonomi syariah belum berkualitas, dukungan sistem yang belum kondusif, dan masih kuatnya pengaruh globalisasi,” tuturnya

Kembali ditambahkan Dwiyono saat ini mayoritas pelaku bisnis terkunci dengan ketakutannya sendiri. “Jika kita sudah terkunci dengan keakutan maka ketakutan itu akan menghacurkan kita. Ada beberapa hal yang membuat orang terperangkap dengan sudut pandang, kenyamanan, kesenangan, kemalasan, ketakutan, kepasrahan, kesuksesan. Maka dari itu kita perlu menjalankan ekonomi islam dengan nilai spiritualitas yang tinggi,” tutupnya.