Sejarah pendidikan Islam di masa kolonial menjadi suatu hal yang menarik untuk dibahas. Masih banyak pahlawan pendidikan Islam yang belum sempat kita ketahui. Mulai dari latar belakang hingga keterkaitan dengan pahlawan lainnya. Salah satunya seperti ulama terkemuka Hindia Belanda yang ternyata punya andil besar dalam perkembangan Islam di Nusantara, yakni Sayid Usman. Andil besar Sayid Usman dalam perkembangan Islam di Nusantara ini dilakukannya dengan menulis banyak karya publikasi yang rupanya juga menjadi rujukan banyak kalangan Muslim Indonesia pada awal abad XX.

Hal itulah yang tertuang dalam buku berjudul “Islam, Kolonialisme, dan Zaman Modern di Hindia-Belanda” karya Nico J.G. Kaptein, dosen Leiden University Belanda. Karya Nico ini juga dibahas dalam acara Bedah Buku “Islam, Kolonialisme, dan Zaman Modern di Hindia-Belanda”, yang diselenggarakan oleh Program Doktor Psikologi Islam, Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sabtu (25/11). Dalam bedah bukunya tersebut, Nico menjelaskan bahwa pada zamannya, Sayid Usman adalah ulama paling terkemuka di Hindia-Belanda, dan ia merupakan salah seorang yang berperan penting dalam membentuk Islam Indonesia.

“Buku biografi Sayid Usman ini membantu kita untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mengenai sejarah Islam di Indonesia yang kaya. Dan saya pikir ini merupakan sesuatu yang paling penting, karena ini bisa membantu memperlihatkan posisi Islam di bingkai Indonesia dibandingkan dengan Islam di berbagai tempat lainnya di seluruh penjuru dunia. Karena ketika kita mempelajari Islam Nusantara, kita melihat bahwa itu dipengaruhi oleh pemahaman tentang Islam dari bagian lain di dunia, namun pada saat yang sama kita juga melihat bahwa interpretasi-interpretasi lokal juga berkontribusi terhadap bentuk dan wujud Islam dewasa ini,” jelas Nico.

 

Nico juga mengatakan bahwa Sayid Usman bin Abdullah bin Aqilbin Yahya Al-Alawi tersebut merupakan bagian elite keagamaan, yang masih dihormati di dunia Islam secara keseluruhan termasuk Hindia-Belanda. Selain itu, ia juga seorang diaspora Hadrami yang menyebarkan dakwah Islam sejak abad XVI, dari mulai Hadramaut yang terletak di bagian selatan Semenjung Arabia hingga ke seluruh wilayah di sekitar Samudera Hindia di Afrika Timur, India Selatan, dan kepulauan Melayu-Indonesia. Karena itulah, dirinya menuliskan biografi Sayid Usman tersebut untuk mengenalkan sosok Sayid Usman yang turut mewarnai mozaik Islam di Indonesia.

“Islam di Indonesia tidaklah berbeda dengan Islam di tempat manapun di muka bumi ini, dimana berbagai manifestasi Islam senantiasa bercampur-baur dengan elemen-elemen lokal dan regional. Maka, apresiasi yang lebih tepat soal sejarah Islam di Indonesia akan membangun kepercayaan diri yang lebih koko di antara kaum Muslim Indonesia, dalam kaitannya dengan berbagai pemahaman orang asing akan Islam,” imbuh Nico lagi.

Buku biografi Sayid Usman yang saat ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan penerbit Suara Muhammadiyah bekerjasama dengan UMY Press ini, menurut Hilman Latief, Ph.D, Wakil Rektor bidang Kemahasiswaan, Alumni dan AIK, menjadi salah satu jawaban yang akan banyak memberikan rasa penasaran dan informasi langka tentang siapa sebenarnya Sayid Usman. Apa peran yang dilakukannya di Indonesia, sejauh mana karya intelektualnya yang pernah berpengaruh di Indonesia, dan bagaimana pula sosoknya dilihat oleh tokoh-tokoh Muslim lainnya waktu masa kolonial dulu. (darel)