Program-program internasional yang sudah mulai banyak dijalankan di Perguruan Tinggi menjadi soroton Wakil Rektor UMY bidang Kerjasama dan Internasional, Prof. Dr. Achmad Nurmandi, M.Sc. Menurutnya, masih banyak program internasional di PT yang belum dijalankan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Misalkan seperti biaya program internasional yang masih dibebankan kepada mahasiswa, sementara hasil atau luaran yang didapatkan dari program tersebut tidak terlihat.

“Standar yang ada perlu untuk diperhatikan dan dijalankan sehingga langkah yang diambil menjadi jelas dan efisien serta tidak membebani mahasiswa,” tutur Prof.Dr. Achmad Nurmandi,M.Sc, dalam sambutannya di Workshop Internasionalisasi Institution of Cooperation and Internasional Affairs senin (12/2) di Hotel Cavinton Yogyakarta. Kegiatan tersebut diikuti oleh Kepala Prodi, Dekan Fakultas, serta Kepala Unit-Unit yang ada di UMY.

Prof. Nurmandi juga menambahkan bahwa saat ini masih banyak ditemui program internasional yang membebankan biaya kepada mahasiswa, namun ketika pulang tidak membawa hasil apapun kecuali foto-foto. Tidak hanya terjadi pada mahasiswa, hal tersebut juga terjadi pada dosen-dosen yang melakukan kunjungan ke beberapa universitas di luar negeri. “Jangan hanya dibebankan kepada mahasiswa tanpa adanya regulasi atau kontrak sebelumnya serta tidak melihat standar yang ada. Jika semuanya dijalankan dengan melihat standar maka akan membuahkan hasil yang baik,” tambahnya.

Selain itu, Prof. Nurmandi juga berpesan agar dosen dan unit penunjang juga harus giat dalam usahanya untuk menjalankan program internasional sesuai standar. Bukan hanya mahasiswa yang memiliki kewajiban tersebut. “Tidak hanya melihat standar namun juga perlu konsistensi dalam memberikan yang terbaik. Jangan sampai nantinya di tengah jalan terjadi penurunan,” ungkapya.

Hal senada juga disampaikan Excecutive Director Of Cooperation and International Affairs Eko Priyo Purnomo, M.Sc., M.Res., Ph.D. Ia mengatakan bahwa tujuan diselenggarakannya Workshop tersebut untuk menanggapi standar yang ada dari Kemenristekdikti sehingga mampu memberikan pelayanan yang terbaik. “Selain untuk meyelaraskan visi, ide dan gagasan UMY sebagai perguruan tinggi yang muda dan mendunia. Kegiatan ini juga merupakan bentuk sosialisasi dari program-program internasionalisasi UMY. Serta nantinya jika berbagai program dapat berjalan dengan baik akan ada peta besar kerjasama internasional yang mempunyai efek baik untuk pendidikan,” tambahnya.

Eko juga menambahkan masih terdapat beberapa hal yang menjadi kendala dan perlu diperbaiki. Permasalahan tersebut diantaranya adalah data base and management system, accomodation and visa, Language and Culture. “Untuk itu kami membuat beberapa solusi untuk memperbesar kerjasama, diantaranya seperti peningkatan scholarship dan fellowship, peningkatan informasi, serta peningkatan pelayanan kelas bahasa. Namun, walau masih terdapat beberapa kendala saya berharap agar tetap ada peningkatan kinerja dosen serta yang lain khususnya dalam rangka internasionalisasi kampus,” tambahnya.

Di sisi lain, sebagai tindakan untuk mengatasi kurangnya ketersediaan informasi, maka juga dilakukan peningkatan di bagian website. Karena di era modern saat ini ketika calon mahasiswa akan mencari informasi mengenai perguruan tinggi, yang pertama dilihat adalah websitenya. Hal tersebut disampaikan oleh Winny Setyonugroho,S.Ked.M.T.,Ph.D, selaku Kepala Urusan Website & SEO. “Dalam dunia teknologi informasi terdapat 5 second rule, yang artinya ketika pengunjung website tidak mendapatkan informasi dalam 5 detik maka akan meninggalkan website tersebut. Maka dari itu, diperlukan standar yang jelas dan sesuai dengan kebutuhan saat ini,” tambahnya. (zaki)