Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengadakan penelitian terkait sikap keberagamaan di sekolah dan universitas di Indonesia. Target populasi survei merupakan siswa dan guru tingkat SMA, dan mahasiswa serta dosen perguruan tinggi yang berada di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Selain itu, populasi survei juga berbasis Madrasah Aliyah Negeri dan Swasta, serta perguruan tinggi di lingkungan Kementerian Agama. Dari penelitian tersebut salah satu hasil survei yang didapatkan yakni Gen Z (orang-orang yang lahir dalam rentang tahun kelahiran 1995 sampai 2014) tidak anti dengan NKRI.

“Penelitian ini dilakukan di 34 provinsi di Indonesia, dimana untuk setiap provinsi dipilih secara acak (random) 1 kabupaten dan 1 kota. Jumlah sekolah diambil menggunakan teknik proportional sampling sehingga kabupaten atau kota yang lebih banyak jumlah sekolahnya memiliki jumlah sampel sekolah yang lebih banyak pula. Total jumlah sampel dalam survei ini adalah 2181 orang, yang terdiri dari 1522 siswa dan 337 mahasiswa serta 264 guru dan 56 dosen pendidikan Agama Islam,” jelas Projek Manajer Unit Program Convey, Fuad Jabali, Ph.D dalam acara diseminasi hasil survei dan pembahasannya yang berjudul “Kemanakah Peran Ormas? Peran Muhammadiyah Menghadapi Intoleransi”, pada Rabu, (20/12), di Gedung K.H. Ibrahim (E7 B) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Fuad juga menjelaskan bahwa penelitian tersebut menggunakan dua alat ukur untuk mengukur tingkat intoleransi dan radikalisme. “Penelitian ini menggunakan dua alat ukur untuk mengukur tingkat intoleransi dan radikalisme. Pertama, alat ukur Implicit Association Test (IAT) untuk melihat potensi intoleransi dan radikalisme secara implisit. Kedua, mengggunakan kuesioner self-report dalam menilai intoleransi dan radikalisme serta faktor-faktor yang mempengaruhi intoleransi dan radikalisme,” tambahnya.

Penekanan dalam survei ini menurut Fuad adalah pada persoalan-persoalan toleransi beragama di Indonesia. Seperti masalah-masalah khilafiyah antar umat Islam, pandangan mereka tentang kelompok Ahmadiyah dan Syiah, dan pandangan mereka tentang kebebasan beragama, dan lain-lain. Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa ada tiga urutan teratas Ormas Islam yang memiliki kedekatan siswa/mahasiswa, yaitu NU, Muhammadiyah, dan FPI. Penelitian ini juga menggali persepsi mereka tentang Islamisme (hubungan agama dan negara), seperti pandangan mereka tentang Pancasila dan UUD 1945, syariat Islam, negara Islam, jihad, serta kesesuaian Islam dengan demokrasi.

Dr Yunita Faela Nisa, Psi selaku koordinator projek juga menjelaskan bahwa hasil dari penelitian berupa presepsi guru terhadap tujuan Pendidikan Agama Islam (PAI), sebanyak 54.70% sangat tidak setuju bahwa PAI membentuk siswa untuk toleran dan berbuat baik kepada penganut Syi’ah. Kemudian sebanyak 53.60% sangat tidak setuju bahwa PAI membentuk siswa untuk toleran dan berbuat baik kepada penganut Ahmadiyah. Sedangkan presepsi dosen terhadap tujuan pendidikan Agama Islam (PAI) bahwa sebanyak 28.10% sangat tidak setuju bahwa PAI membentuk siswa untuk toleran dan berbuat baik kepada penganut Syi’ah dan Ahmadiyah.

“Hasil lain menunjukkan bahwa Gen Z tidak anti dengan NKRI, sebanyak 90.16% Siswa/mahasiswa serta guru/dosen setuju bahwa pengamalan Pancasila dan UUD 1945 adalah sejalan dengan amalan Islam. Data lain, 85.00% Siswa/mahasiswa setuju bahwa demokrasi adalah sistem terbaik serta sebanyak 88.82% Guru/dosen setuju bahwa demokrasi adalah sistem terbaik,” jelas Yunita.

Hasil lainnya juga menunjukkan bahwa sebanyak 91,93% guru/dosen tidak setuju dan sebanyak 80,74% siswa/mahasiswa tidak setuju terhadap pernyataan bahwa Pemerintahan Indonesia yang berdasarkan pada Pancasila dan UUD 1945 adalah thaghut dan kafir. Kemudian 86.02% guru/dosen tidak setuju dan sedangkan sebanyak 69.71% siswa/mahasiswa tidak setuju jika penyerangan terhadap aparat negara yang dinggap thaghut dan kafir. (darel)